BAPPEDA INDRAMAYU ONLINE VOL.I EDISI 1
Selasa, 21 Oktober 2014
 
 
Untitled Document
 
 
 
 
“Hai Wiralodra, apabila engkau ingin berbahagia berketurunan di kemudian hari, pergilah ke arah matahari terbenam dan carilah lembah Sungai Cimanuk. Manakala telah tiba disana, berhentilah dan tebanglah belukar secukupnya untuk mendirikan pedukuhan dan menetaplah di sana. Kelak tempat itu akan menjadi subur dan makmur serta tujuh turunanmu akan memerintah di sana”.
Sejarah terbentuknya Kabupaten Indramayu dimulai Tahun 1527, ketika Raden Arya Wiralodra, Putra Tumenggung Gagak Singalodra dari Bagelen Jawa Tengah mendapatkan ‘wangsit’  dalam ‘tapa brata’-nya di kaki Gunung Sumbing.
Dengan ditemani oleh Ki Tinggil dan berbekal senjata Cakra Undaksana, Raden Arya Wiralodra yang mempunyai garis keturunan Majapahit dan Pajajaran ini membangun pedukuhan yang diberi nama “Darma Ayu”. Nama pedukuhan tersebut diambil dari nama seorang wanita bernama Nyi  Endang Darma, yang terkenal dengan kecantikan dan kesaktiannya. Beberapa tokoh sejarah yang turut terlibat dalam pendirian pedukuhan tersebut antara lain yaitu Nyi Endang Darma, Aria Kemuning putra Ki Gede Lurah Agung yang diangkat anak oleh Puteri Ong Tien istri Sunan Gunung Jati, dan Ki Buyut Sidum/Kidang Pananjung seorang pahlawan Panakawan Sri Baduga dari Palembang. Pedukuhan Darma Ayu yang dapat diartikan pula sebagai “Kewajiban Yang Utama” atau “Tugas Suci” kemudian berubah menjadi “INDRAMAYU” setelah terbebas dari kekuasaan Padjajaran. Titimangsa berdirinya Kabupaten Indramayu diproklamirkan pertama kali oleh  R. Arya Wiralodra pada hari Jum’at Kliwon tanggal 1 Muharam 934 H atau 1 Sura 1449 bertepatan pada tanggal 7 Oktober 1527, sehingga diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Indramayu.
Terlepas dari kekuasaan Padjajaran paska tahun 1527, Indramayu berada dalam kekuasaan Kerajaan Demak, dan pada tahun 1546 menjadi bagian dari Kesultanan Cirebon. Pada tahun 1615 terjadi pembagian wilayah sebagai berikut: di sebelah Timur Sungai Cimanuk menjadi bagian kesultanan Cirebon namun bagian sebelah baratnya termasuk dalam wilayah Kerajaan Mataram. Pada tahun 1681 mulai dikuasai oleh Kolonial Belanda sehingga pada zaman Pemerintahan Daendlles (1806 – 1811) daerah sebelah Barat Sungai Cimanuk dimasukkan dalam prefektur Karawang dan sebelah Timur-nya masuk prefektur Cirebon Utara. Pada zaman penjajahan kompeni tersebut daerah Indramayu menjadi ajang pertempuran segitiga antara Kolonial Belanda, Kerajaan Mataram dan Kerajaan Banten. Pada tahun 1706, daerah Indramayu sepenuhnya jatuh kedalam kekuasaan Kolonial Belanda seperti wilayah-wilayah lain di Nusantara.
Paska kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, wilayah Indramayu secara resmi dijadikan Kabupaten yang masuk dalam wilayah Provinsi Jawa Barat sesuai dengan Undang-undang Nomor 14 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Provinsi Jawa Barat.

“Hai Wiralodra, apabila engkau ingin berbahagia berketurunan di kemudian hari, pergilah ke arah matahari terbenam dan carilah lembah Sungai Cimanuk. Manakala telah tiba disana, berhentilah dan tebanglah belukar secukupnya untuk mendirikan pedukuhan dan menetaplah di sana. Kelak tempat itu akan menjadi subur dan makmur serta tujuh turunanmu akan memerintah di sana”.Sejarah terbentuknya Kabupaten Indramayu dimulai Tahun 1527, ketika Raden Arya Wiralodra, Putra Tumenggung Gagak Singalodra dari Bagelen Jawa Tengah mendapatkan ‘wangsit’  dalam ‘tapa brata’-nya di kaki Gunung Sumbing. Dengan ditemani oleh Ki Tinggil dan berbekal senjata Cakra Undaksana, Raden Arya Wiralodra yang mempunyai garis keturunan Majapahit dan Pajajaran ini membangun pedukuhan yang diberi nama “Darma Ayu”. Nama pedukuhan tersebut diambil dari nama seorang wanita bernama Nyi  Endang Darma, yang terkenal dengan kecantikan dan kesaktiannya. Beberapa tokoh sejarah yang turut terlibat dalam pendirian pedukuhan tersebut antara lain yaitu Nyi Endang Darma, Aria Kemuning putra Ki Gede Lurah Agung yang diangkat anak oleh Puteri Ong Tien istri Sunan Gunung Jati, dan Ki Buyut Sidum/Kidang Pananjung seorang pahlawan Panakawan Sri Baduga dari Palembang. Pedukuhan Darma Ayu yang dapat diartikan pula sebagai “Kewajiban Yang Utama” atau “Tugas Suci” kemudian berubah menjadi “INDRAMAYU” setelah terbebas dari kekuasaan Padjajaran. Titimangsa berdirinya Kabupaten Indramayu diproklamirkan pertama kali oleh  R. Arya Wiralodra pada hari Jum’at Kliwon tanggal 1 Muharam 934 H atau 1 Sura 1449 bertepatan pada tanggal 7 Oktober 1527, sehingga diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Indramayu.Terlepas dari kekuasaan Padjajaran paska tahun 1527, Indramayu berada dalam kekuasaan Kerajaan Demak, dan pada tahun 1546 menjadi bagian dari Kesultanan Cirebon. Pada tahun 1615 terjadi pembagian wilayah sebagai berikut: di sebelah Timur Sungai Cimanuk menjadi bagian kesultanan Cirebon namun bagian sebelah baratnya termasuk dalam wilayah Kerajaan Mataram. Pada tahun 1681 mulai dikuasai oleh Kolonial Belanda sehingga pada zaman Pemerintahan Daendlles (1806 – 1811) daerah sebelah Barat Sungai Cimanuk dimasukkan dalam prefektur Karawang dan sebelah Timur-nya masuk prefektur Cirebon Utara. Pada zaman penjajahan kompeni tersebut daerah Indramayu menjadi ajang pertempuran segitiga antara Kolonial Belanda, Kerajaan Mataram dan Kerajaan Banten. Pada tahun 1706, daerah Indramayu sepenuhnya jatuh kedalam kekuasaan Kolonial Belanda seperti wilayah-wilayah lain di Nusantara.Paska kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, wilayah Indramayu secara resmi dijadikan Kabupaten yang masuk dalam wilayah Provinsi Jawa Barat sesuai dengan Undang-undang Nomor 14 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Provinsi Jawa Barat.

 
 
 

 

 
Profil Indramayu | Organisasi Pemerintahan | Potensi & Peluang Investasi
Layanan Publik | Statistik Data & Informasi | Wisata : Budaya & Lokasi
 
   
 
©2010 BAPPEDA Kabupaten Indramayu - Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang
 
     
 
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabuoaten Indramayu
Jl. Letjend. S. Parman No. 15
Indramayu 45212
Telp (0234) 271711 - 271722 Fax (0234) 271711